Ciri Dan Karakteristik Tri Guna

mānusah sarvabhūtesu varttate vai subhāśubhe aśubhesu samavistam śubhesvevāvakārayet
Artinya: Di antara semua makhluk, hanya manusia sajalah yang dapat melaksanakan dan membedakan perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk, melebur perbuatan buruk menjadi baik itulah tujuan hidup manusia.

Sarasamuscaya 2

Kelebihan manusia terletak pada pikirannya, karena pikiran manusia sebagai alat untuk menimbang perbuatan yang dapat memberikan manfaat ataupun merugikan dirinya sendiri. Pikiran digunakan untuk menentukan baik, buruk, benar, salah sehingga manusia dapat terlepas dari samsara/penderitaan dan dapat menjalani hidup sesuai dengan tujuan agama Hindu, tetapi pada nyatanya masih terdapat manusia yang belum mampu mengendalikan semua yang ada dalam dirinya, terbukti dengan maraknya perbuatan kriminalitas, merosotnya sifat welas asih yang membuat hidup manusia semakin menderita. Perbuatan – perbuatan manusia tersebut tidak lepas dari pengaruh Guna.

TRI GUNA DALAM DIRI

Sifat dan karakter manusia dapat dilihat dari perilakunya. Tri Guna dalam diri  manusia dapat  dilihat dari ciri-ciri atau tanda – tanda yang dapat dijadikan penanda bahwa orang tersebut dipengaruhi oleh sifat sattvam, rajas, dan tamas dalam aktivitasnya sehari-hari. Ciri-ciri Tri Guna dapat dilihat dari kegiatan kerja, cara ber-yajña-nya, pola makan, perilaku kesehariannya, dan cara mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

Ciri dan Karakateristik

A. Manavadharmaśāstra XII.31
Mempelajari veda, bertapa, belajar segala macam ilmu pengetahuan, berkesucian, mengendalikan atas budi indriya, melakukan perbuatan yang bajik, bersamadhi tentang jiwa, semua merupakan ciri-ciri sifat Sattvam.

B. Manavadharmaśāstra XII.32
Sangat bergairah akan melakukan tugas-tugas pekerjaan, kurang di dalam ketekunan, melakukan perbuatan- perbuatan berdosa, dan selalu terikat akan kesenangan- kesenangan jasmani, semuanya merupakan sifat Rajas.

C. Manavadharmaśāstra XII.33
Loba, pemalsu, kecil hati, kejam, tanpa keyakinan, berusaha yang tidak baik, berkebiasaan hidup atas belas kasih pemberian orang lain dan tidak berperhatian adalah ciri-ciri sifat tamas.

Makanan

A. Bhagavad Gita XVII.8
Makanan yang memberi hidup, kekuatan, tenaga kesehatan, kebahagiaan dan kesenangan, yang terasa lezat, lembut, menyegarkan dan enak, sangat disukai oleh golongan Sattvika.

B. Bhagavad Gita XVII.9
Makanan yang pahit, asam, asin, pedas, banyak rempah, keras, dan hangus serta menyebabkan kesusahan, kesedihan, dan penyakit disukai oleh golongan Rajas.

C. Bhagavad Gita XVII.10
Makanan yang basi, hilang rasa, busuk, bau, bekas sisa dan tidak bersih adalah makanan yang sangat digemari oleh golongan tamas.

Yajna /Persembahan

A. Bhagavad Gita XVII.11
Yajna menurut petunjuk kitab suci, dilakukan oleh orang tanpa mengharap pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara yajna sebagai kewajiban adalah sattvika.

B. Bhagavad Gita XVII.12
Yajna yang dilakukan dengan mengharap ganjaran, dan semata – mata untuk kemegahan belaka, ketahuilah bahwa yajna itu bersifat rajas.

C. Bhagavad Gita XVII.13
Yajna yang dilakukan tanpa aturan, dimana makanan tidak dihidangkan, tanpa puja mantra dan punia/sedekah serta tanpa keyakinan dinamakan tamas.

Kegiatan Kerja

A. Bhagavad Gita XVIII.23
Kegiatan kerja yang wajib dilakukan oleh seseorang tanpa bertujuan mecari pemenuhan keinginan pribadinya, bebas dari keterikatan, yang bekerja dengan tiada kecintaan dan kebencian itu yang dinamakan Sattvika.

B. Bhagavad Gita XVIII.24
Kegiatan kerja yang dilakukan dengan usaha – usaha keras karena terdorong oleh keinginan dan ke-aku-an dikatakan kegiatan yang Rajasa.

C. Bhagavad Gita XVIII.25
Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebingungan tanpa menghiraukan akibatnya, menyakiti hati dan tak hirau akan kemampuan disebut  Tamasa.

Sikap dan Prilaku

A. Bhagavad Gita XVIII.26
Prilaku yang bebas dari keterikatan dan tidak egois dalam berbicara, penuh dengan keteguhan hati, tak tergoyahkan oleh keberhasilan dan kegagalan, ia dinamakan Sattvika.

B. Bhagavad Gita XVIII.27
Prilaku yang terbawa arus hawa nafsu, menginginkan pahala kerja, loba, membahayakan, tak suci, mudah terpengaruh suka dan duka ia dinamakan Rajasa.

C. Bhagavad Gita XVIII.28
Perilaku yang pikirannya tak terkendalikan, tak beradat, sombong, tidak jujur, berhati jahat, tebal muka, pengecut dan suka menunda – nunda, ia dinamakan Tamasa.

MENYEIMBANGKAN TRI GUNA

Upaya yang dapat dilakukan dalam upaya menyeimbangkan Tri Guna atau menetralisir ketiga pengaruh Guna terutama pada Rajas dan Tamas adalah dengan melatih kesadaran pikiran. Praktik ini termasuk latihan untuk mengamati pikiran, perasaan dan sensasi yang mucnul dan tenggelam, tanpa menjadi terjebak di dalamnya.(http//:budhazine.com). Kita menjadi sadar setiap saat ketika satvam muncul kita tahu itu sifat – sifat satvam, ketika rajas dan tamas muncul kita tahu dan cukup mengamati kemunculannya tanpa terganggu akan pengaruhnya. Prinsipnya kita selalu menjaga agar pikiran tetap murni.

Related Posts

Pengertian dan Bagian Panca Satya

“Tidak ada dharma yang lebih tinggi dari kejujuran, tidak ada dosa yang lebih rendah dari dusta. Dharma harus dilaksanakan diketiga dunia ini dan kejujuran harus tidak dilanggar”….

Dasa Mala Sebagai Perilaku Yang Harus Dihindari

Manusia lahir ke dunia memiliki dua kecenderungan yaitu daiwi sampad sebagai sifat kedewataan dan asuri sampad sebagai sifat keraksaan, dimana keduanya mendorong seseorang untuk berbuat baik dan…

Leave a Reply

Your email address will not be published.