Fase Perkembangan Agama Hindu di India

Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah sungai suci Sindhu di Bharatawarsa (India). Di lembah sungai Sindhu inilah para maharsi menerima wahyu Brahman, dan kemudian di abadikan dalam bentuk pustaka suci Weda. Weda adalah kitab suci Hindu yang mengandung pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi, mengenai Brahman.

Sejarah agama Hindu di India, perkembangannya dapat di ketahui dari lkitab-kitab suci Hindu yang terhimpun dalam Weda Sruti, Veda Smerti, Itihasa, Upanisad, dan sebagainya. Pertumbuhan filsafat keagamaan dan perkembangan pelaksanaan keagamaannya tak dapat melepaskan diri dari sumber-sumber tersebut. Sehingga perkembangan agama senantiasa bersifat religius, dalam arti dan bernafaskan keagamaan. Agama Hindu merupakan sumber kekuatan batin yang menjiwainya.

Perkembangan agama Hindu di India, belangsung dalam kurun waktu yang amat panjang yaitu berabad-abad hingga sekarang. Dari kitab-kitab suci Weda dapat di ketahui perkembangan agama Hindu menurut corak dan pandangan hidupnya, yaitu di bedakan menjadi beberapa jaman, yaitu jaman Weda, jaman Brahmana, jaman Upanisad, dan jaman Tantrayana.

1) Jaman Weda

Jaman Weda ini di mulai dengan kedatangan bangsa Arya kira-kira 5000 tahun yang lalu, di daerah lembah sungai Sindhu yang terkenal yang bernama Punjab (lima Sungai). Bangsa Arya adalah termasuk rumpun bangsa Eropa sebagai bangsa pengembara. Dari tempat mereka terakhir di daerah Asia Tengah, sebagian dari mereka masuk dan menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Panjab. Pada waktu itu di sepanjang lembah sungai Sindhu terdapat suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah tinggi sekali tingkatannya.

Ketika daerah panjab tidak lagi mencukupi bangsa Arya mulai menyebar ke daerah tenggara, memasuki daerah lembah sungai Gangga dan Yamuna yang disebut Doab (daerah dua sungai). Di daerah inilah tercadi percampuran darah dan kebudayaan dengan penduduk asli sehingga melahirkan kebudayaan Hindu.

Dalam jaman Weda, manusia memuja Brahman, dalam manifestasiNya sebagai dewa-dewa untuk memohon anugrah keselamatan, kesehatan, dan kesejahtraan. Pemujaan terhadap Dewa-dewa sebagai manifestasi Brahman itu di lakukan manusia bukan karena rasa takut, tetapi benar-benar karena rasa hormat dan bhakti yang setulus-tulusnya.

2) Zaman Brahmana

Brahmana adalah kitab suci yang menguraikan masalah yajna dan upacara-upacaranya, yang meliputi arti suatu yajna serta tenaga gaib apa yang tersimpul dalam upacaranya dan sebagainya. Tiap-tiap yajna di tetapkan dengan cermat sekali menurut peraturan-peraturannya. Menyimpang sedikit saja dari peraturan-petauran itu berarti batalnya atau tidak sahnya yajna itu.

Untuk yajna yang demikian pentingnya dan upacara-upacaranya yang begitu rumit, di adakanlah kitab-kitab penuntun, yang di sebut Kalpasutra. Kitab ini ada dua macam yaitu: Grhyasutra, penuntun untuk yajna-yajna kecil dalam lingkungan keluarga dan Srautasutra penuntun untuk yajna-yajna besar dalam lingkungan kerajaan dan negara.

3) Zaman Upanisad

Kata Upanisad berarti duduk di bawah dekat guru, untuk mendengarkan upadesa (ajaran) mengenai Brahman, samsara, swarga-neraka dan moksa. Upadesa dari sang guru mengandung ajaran-ajaran yang bersifat ilmiah, dan karena itu Upanisad merupakan ilmu pengetahuan suci yang dapat membuka mata hati pembacanya dalam membuka misteri kehidupan alam semesta ini. Upanisad di sebut juga ilmu rahasia karena isinya yang mengandung ajaran-ajaran yang bersifat gaib yaitu sifat dan hakekat Brahman.

Kegiatan keagamaan di jaman Upanisad lebih di tekankan kepada ajaran filsafat tentang Brahman dan segala ciptaanNya. Pandangan yang menonjol di dalam kitab-kitab Upanisad itu adalah ajaran yang monistis dan absolut. Artinya ajaran yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini di alirkan dari satu Asas, suatu realitas tertinggi. Realitas ini tidak terlihat, bebas dari segala ikatan, tidak terbagi-bagi, tidak tertembus oleh akal manusia, tetapi meliputi segala sesuatu di alam semasta ini. Realitas itu adalah Brahman, Tuhan Yang Maha Esa.

Brahman adalah sumber alam semesta. Ia sebagai pencipta dan yang menjadikan alam semeta ini. Sebagai seekor laba-laba mengeluarkan dan menarik kembali benang-benang jaringnya, demikianlah alam semesta keluar daripada Brahman.

Brahman yang transcendent (Nirguna Brahman) yang berada jauh di luar alam semesta ini. Dan juga Brahman yang Immanent (Saguna Brahman) yang berada di alam semesta dan di dalam diri manusia yang di sebut Atman. Dengan demikian pada hakekakatnya atman adalah Brahman yaitu Saguna Brahman, atau Brahman yang Immanent. Karena itu Upanisad mengajarkan Tat Twam Asi yang berarti Itu (Brahman) adalah kamu (atman). Oleh karena atman setiap orang adalah sama merupakan percikan-percikan kecil dari Brahman, maka Tat Twam Asi dapat juga di artikan saya adalah kamu.

Pada hakekatnya atman adalah sempurna, tetapi manusia tidaklah sempurna, karena persatuan atman dengan badan menyebabkan kebodohan (Awidya/kegelapan). Jadi manusia lahir dalam keadaan awidya, yang menyebabkan ketidak sempurnaannya. Karena itu manusia dapat mati tetapi hanya badan kasarnya saja sedangkan atman tetap saja kekal. Selama atman tetap terperangkap dalam tubuh maka Ia akan mengalami sangsara dan akan terus mengalami rainkarnasi yang berulang-ulang. Hingga pada akhirnya sang Atman dapat mencpai kebebasan (Moksa). Moksa itulah yang menjadi tujuan akhir dari umat manusia. Untuk mencapi Moksa tersebut manusia harus dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi, dengan jalan Yoga.

4) Zaman Tantrayana

Di dalam Tantrayana aspek yang menonjol adalah konsep teologinya yang melihat dari segala peranan Sakti. Manusia mendambakan kesaktian yang ada pada Brahman dan berharap supaya kesaktianNya itu di berikan kepada manusia. Sehingga dengan demikian manusia dapat memiliki apa yang ada pada Brahman itu.

Tantrayana berorentasi kepada Siva dan karena itu sekte ini di kenal pula sebagai sekte siva. Dalam sekte Siva ini nama Siva selalu di sebut-sebut seebagai Ista Devata dengan seribu nama (Siva shasra nama).

Praktek ajaran Tantrayana adalah upacara-upacara yadnya yang bersifat mistik atau rahasia. Brahman bersifat rahasia karena esensiNya diluar kemampuan daya pikir manusia. Sifat-sifat rahsia itu dipikirkan ke dalam bentuk niyasa dengan cara-cara simbolis yang disebut mayasakti. Hal itu seperti gerak-gerik tangan atau mudra, mantra – mantra, menyentuh bagian-bagian tubuh tertentu sambil mengucapkan mantra. Sehingga dengan cara yang sukar di mengerti oleh akal, sifat mesteri itu tercermin dalam meragakannya. Inilah yang dimaksud dengan sifat-sifat mistik atau rahasia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.