Mendengar kata Penjor pasti sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Ya.. Penjor identik dengan perayaan Galungan bagi umat Hindu di Nusantara sehingga terlihat meriah.

Bahan untuk membuat penjor terdiri dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur yang dibentuk sedimikian rupa sehingga menjadi karya seni yang indah dan menarik.

Penjor merupakan perwujudan dari Naga Basuki sebagai simbol kesejahteraan dan Kemakmuran. Selain itu umat Hindu juga menganggap penjor sebagai simbol gunung yang dianggap suci.

Penjor seyogyanya dipasang tepat pada hari penampahan galungan, setelah jam 12 siang. Hal ini bermakna Setelah berhasil mengalahkan musuh – musuh di dalam diri dipasanglah penjor sebagai simbol “kemenangan”.

Penjor galungan bersifat sakral dan religius yang mempunyai fungsi tertentu dalam upacara keagamaan. Sehingga pembuatannya memerlukan syarat tertentu sesuai sastra agama agar tidak terkesan sebagai hiasan saja.

Didalam lontar Tutur Dewi Tapini telah disebutkan unsur unsur penjor galungan beserta makna suci simboliknya, yaitu:

  1. Kain putih, sebagai simbol kekuatan Hyang Iswara.
  2. Bambu, sebagai simbol dan kekuatan Hyang Brahma.
  3. Kelapa, sebagai simbol kekuatan Hyang Rudra.
  4. Janur, sebagai simbol kekuatan Hyang Mahadewa
  5. Daun-daunan (plawa), sebagai simbol kekuatan Hyang Sangkara.
  6. Pala bungkah, pala gantung sebagai simbol kekuatan Hyang Wisnu.
  7. Tebu, sebagai simbol kekuatan Hyang Sambu.
  8. Sanggah dan Upakaranya sebagai simbol kekuatan Hyang Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa

Dalam rangkaian galungan Penjor dicabut setelah 35 hari raya Galungan atau dikenal dengan Budha Kliwon Pahang.

Unsur – unsur penjor dibakar, kemudian abunya dimasukkan ke kelapa gading dan kemudian ditanam di hulu pekarangan rumah ataupun bisa dihanyut ke laut.

Sumber gambar: Galungan vector created by freepik – www.freepik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *