Makna Sarana Persembahyangan dalam Agama Hindu

Om Swastyastu.
Dalam ajaran agama Hindu Persembahyangan merupakan salah satu cara menyampaikan bhakti sekaligus upaya mendekatkan hubungan dengan Sang Pencipta.

Persembahyangan dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu Nitya yang dilaksanakan secara rutin dan Naimitika yang dilaksanakan secara berkala. Dalam pelaksanaan Nitya maupun Naimitika diperlukan Sarana sebagai media pemujaan terhadap Ide Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya.

Setiap sarana yang dipergunakan memiliki makna simbolis dan nilai filosofis yang tinggi.

Sarana utama dalam persembahyangan dalam agama Hindu.

1) Bunga.
Bunga digunakan sebagai simbol ketulusan dan kesungguhan hati. Dalam persembahyangan Bunga mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai simbol Kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Wasa dan sebagai persembahan. Bunga yang baik digunakan adalah bersih, beraroma harum, dan tidak layu.

2) Dupa
Dupa adalah sejenis harum haruman yang dibakar sehingga berbau wangi dan menyala sebagai simbol Agni. Dupa memiliki fungsi yaitu sebagai saksi dalam persembahyangan, menciptakan suasana hening, dan sebagai perantara puja kehadapan Ide Sang Hyang Widhi Wasa.

3) Tirta.
Tirtha adalah air yang telah disucikan menggunakan puja ataupun mantra oleh seorang sulinggih. Tirta sebagai sarana untuk menumbuhkan perasaan dan pikiran yang suci. Tirta dapat digunakan dengan cara dipercikan di kepala, diraupkan ke muka dan diminum sebanyak 3 (tiga) kali.

4) Bija
Bija atau Wija berasal dari kata ‘biji yang berasal dari beras sebagai simbol benih – benih kebaikan. Bija digunakan setelah selesai metirta. Adapun penempetannya yaitu
a) Di antara kedua alis untuk menumbuhkan kebijaksanaan.
b) Di ulu hati untuk menumbuhkan kebahagiaan.
c) Di Telan untuk menumbuhkan kesempurnaan.

Itulah sarana utama dalam persembahyangan sebagai media mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lalu sebarapa pentingnya menggunakan sarana Persembahyangan?

Sarana persembahyangan diibaratkan kendaraan yang dapat mengantar seseorang lebih cepat ke tempat tujuan. Namun dalam penggunaan sarana persembahyangan hendaknya mengacu kepada sastra agama dan petunjuk orang suci sehingga tidak kehilangan makna dan tujuan persembahyangan.

Dalam kita Bhagawad Gita 9.26 dijelaskan bahwa “Siapapun yang dengan sujud bhakti mempersembahkan kepadaKu sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, setetes air, Aku terima persembahan itu dengan penuh kasih dari orang yang berhati suci”.

Related Posts

Runtutan dan Arti Kramaning Sembah

Kramaning sembah merupakan runtutan pesembahyangan dalam agama Hindu. Kramaning sembah biasa dilakukan dalam persembahyangan – persembahyangan yang dilakukan oleh umat (krama) secara bersama – sama yang dipimpin…

Tri Rna sebagai Dasar Upacara Yajna

Om Swastyastu. Tahukah kamu bahwa setiap kelahiran kita ke dunia memiliki tujuan yang mulia? Moksa dalam ajaran agama Hindu dianggap sebagai tujuan akhir kehidupan . Moksa hanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.